Sang Pionir dari Kepulauan Seribu

Foto : Istimewa

SAAT ini nama Pulau Ayer memang seakan tenggelam dengan pulau-pulau lainnya yang ada di Kepulauan Seribu seperti Pulau Bidadari dan Pulau Pramuka. Jadi, wajar saja jika banyak orang mulai lupa dengan pulau ini. Padahal, Pulau Ayer adalah pionir pariwisata di Kepulauan Seribu.

Beberapa waktu lalu, SINDO mendapatkan undangan untuk berwisata ke Pulau Ayer oleh PT HM Sampoerna. Sempat salah sangka, apa panitia salah tulis antara Ayer atau Anyer. Tapi kok di Kepulauan Seribu?

Perjalanan ke Pulau Ayer dari Dermaga Ancol sendiri menggunakan kapal cepat dengan kapasitas sampai lima puluh orang. Hanya, butuh sekitar 25 menit untuk sampai ke Ayer. Maklum pulau ini merupakan bagian paling luar dari Kepulauan Seribu.

Dari kejauhan SINDO melihat ada rumah terapung. Kelak di sanalah SINDO akan tinggal. Hunian istimewa, floating cottage, atau cottage mengapung. Rumah kayu gelap yang tampak kokoh di atas perairan, dengan jembatan penghubung bak ular tangga.

Ketika turun dari kapal, kami langsung meniti dermaga untuk istirahat sejenak di restoran. Jika rekan-rekan wartawan lainnya memilih untuk berdiam di dalam ruangan, SINDO memilih bersantai di luar, menatap laut lepas, menantang matahari yang membakar kulit.

Kemudian panitia membawa kami ke masing-masing cottage. Saya dan rekan dari Okezone mendapatkan tempat di Floating Cottage Serui. Wah, ternyata di sini memakai nama-nama khas Papua.

Selain floating cottage, ada pula land cottage di pinggiran pantai. Di sini ukurannya lebih besar, sampai dengan dua tempat tidur besar. Sementara floating bed biasanya untuk kamar singel bed, atau double bed.

Dilihat dari bentuk bangunan, lanskap, terlihat sekali cottage ini tidak baru. Namun, sudah solid. Wajar kalau kayunya sudah agak kusam, furnitur, desain kamar mandi, dan bahkan saluran TV kabelnya agak payah.

Namun yang menyenangkan adalah kebersamaan selama di sana. SINDO mengikuti kegiatan outing bersama teman-teman. Bertelanjang kaki menyentuh pasir, berlarian di pinggir pantai, membiarkan kaki ini merasakan dinginnya air laut, atau bersantai di ayunan dan dibuai angin.

Matahari terbit dan tenggelam di penjuru yang sama. SINDO terpukau dengan sebuah dermaga kosong yang tenang. Kemudian SINDO duduk di sana, menikmati sepi. Sudah jam lima seharusnya terlihat sunset. Waktu terus berjalan, SINDO dan beberapa teman sibuk merekam gambar. Sekonyong-konyongnya ada sinar oranye begitu menyilaukan dari belakang.

"Hey, itu apa ya? Lampu sorot atau sunset?" kata SINDO. Teman saya menjawab, "Kamu nungguin sunset? Heh... ini timur, barat tuh di sana..." Oh my God! Rupanya SINDO salah arah, karena tidak kehilangan waktu langsung SINDO berlari ke arah sinar itu, bagai kanak-kanak sambil menertawai kebodohan sendiri.

Ada sepeda milik pengelola yang terparkir sembarang, langsung diambil untuk mengejar matahari tenggelam. Tidak banyak waktu, SINDO tidak ingin melewatkan momen istimewa ini. Dengan napas terengah-engah, saya tiba di dermaga, menjatuhkan sepeda dengan sembrono dan menyongsong matahari senja.

"Ah, orang Jakarta, jarang sekali melihat sunset seperti ini?" pikir saya. Tapi inilah yang dicari-cari sejak pertama kali datang ke Pulau Ayer. Semburat warna oranye, berubah jingga, dan kembalinya matahari ke peraduan yang malu-malu terlihat sangat luar biasa. SINDO akhirnya mendapatkan sunset terindah dari Pulau Ayer.

Sayangnya, SINDO melewatkan momen sunrise. Ini terjadi karena banyaknya aktivitas yang dilakukan di Pulau Ayer. Namun, gantinya sungguh luar biasa. Di pulau ini, SINDO mencoba berbagai permainan yang tersedia seperti banana boat atau saling kebut-kebutan dengan jet ski.

Tak terasa perjalanan dua hari satu malam ini begitu cepat berlalu. Kembali bertemu siang, matahari terik, dan kapal berlayar cepat mengantar kami pulang ke dermaga. (sindo//nsa)

 
berita unik