Popular Posts Today

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Janda Muda Menunggu Janji

Aneh memang jalan pikiran Pawiro, 65 tahun, dari Sragen (Jateng) ini. Berani selingkuh tapi tak berani tanggungjawab. Coba bayangkan, ketika Diani, 35 tahun, mengajaknya kawin, dia menunda-nunda dengan alasan tunggu istrinya meninggal. Tapi kapan, lha nggak tahulah yauw! Saking kesalnya janda muda tersebut, dia nekad cari perhatian dengan cara memanjat menara (BTS) telepon seluler.

Tua-tua keladi makin tua makin menjadi, agaknya pepatah sekaligus gambaran perilaku Mbah Pawiro. Bagaimana tidak? Usia sudah bau tanah, masih juga celamitan lihat daun muda. Ketika kenal Ny. Diani yang baru menjalani kehidupan jandanya, dia mulai mbagusi (jual tampang). Padahal di rumah, dia masih punya tanggungjawab mbah putri yang kini sudah berusia 53 tahun. Kalau dia main gila begitu, lalu mau dikemanakan neneknya putra wayah (anak cucu) tersebut?

Itu kalau orang normal. Lha Mbah Pawiro ini memang sedang degleng (gila). Soal usia bagi dia bukan masyalllah. Tua-tua boleh saja main perempuan, karena itu merupakan bagian dari desirvikasi menu. “Masak setiap hari ketemu sayur lodeh terus, sekali-kali ya nyobain yang timlo solo atau garang asem,” kata Mbah Pawiro ketika diingatkan teman seangkatannya.

Konyolnya, si Diani mau saja dipacari kakek-kakek jompo tersebut. Sepertinya di Sragen sana sudah kehabisan stok kaum lelaki. Tapi dia ternyata punya alasan sendiri, kenapa mau dipacari oleh lelaki gaek tersebut. Katanya, di samping memperoleh obat dingin dalam kondisi darurat, dia juga mengharapkan harta warisan. Kalau sudah diperisti oleh Mbah Pawiro, otomatis kalau meninggal kan menerima juga hak waris.

Alasan itulah yang membuat Diani mau saja dikencani Mbah Pawiro, meski belum jadi istrinya. Padahal, kalau janda muda itu sekadar mencari obat dingin, rasanya juga bukan pilihan tepat. Soalnya dalam usia kepala enam sekarang ini, sepakterjangnya sudah lamban. Kalau pemain bola kelas piala dunia, mungkin dia Pele-lah. Dulu memang hebat. Tapi sekarang baru menggiring bole menuju gawang saja sudah ngos-ngosan.

Herannya, ketika semua “asset”-nya sudah diserahkan, Mbah Pawiro tak juga menikahi. Janda dari Kauman Wetan ini pernah menanyakan hal itu, tapi katanya si kakek beralasan, perkawinan secara resmi menunggu sampai mbah putri meninggal. Tapi kapan, ya tidak tahulah. Apalagi usia mbah putri terpaut lebih muda 12 tahun. “Jangan-jangan malah Mbah Pawiro dulu yang jeleding (meninggal)...,” kata Diani saking kesalnya.

Ironisnya, Mbah Pawiro tetap tak peduli dengan alasan WIL-nya tersebut. Katanya, kalau mau menunggu ya ditunggu sampai Mbah Putri meninggal. Soal usia dirinya yang jauh lebih tua dari bininya, itu bukan ukuran dan jangan dijadikan patokan. Umur itu milik Allah. Jadi kalau yang di atas, bisa saja si istri yang lebih muda malah mati duluan.

Diani jadi dongkol sekali mendengar alasan kakek-kakek dari Desa Jambanan Kecamatan Kecamatan Sidoharjo ini. Untuk menarik perhatian, sekaligus sebagai lambing keputus-asaannya, Diani tanpa pikir panjang lalu memanjat menara BTS milik operator telepon seluler. “Nek mbah Pawiro ora ndang ngrabeni aku, aku anjlog tenan (kalau mbah Pawiro tak juga mengawiniku, aku mau terjun nih),” ancam Diani dari atas.

Orang-orang warga Desa Sukomanto tempat BTS itu berada, tentu saja jadi gempar. Ada apa gerangan seorang perempuan berani-beraninya manjat menara segala, apa tidak khawatir kecantel (tersangkut)? Mereka baru ngeh ketika Diani berulangkali menyebut nama Mbah Pawiro warga Jambanan. Maka kakek-kakek genit itu segera dihadirkan, agar mampu merayu sijanda turun ke bumi lagi.

Lelaki celamitan ini awalnya menolak dikait-kaitkan dengan Diani, karena merasa malu ditelanjangi di depan khalayak. Tapi karena warga terus mendesaknya, tak ada jalan lain kecuali menurut saja. Sambil melambai-lambaikan uang Rp 1 juta dia minta selingkuhannya itu turun. “Meduna, gila tak sedhiyani dhuwit sakyuta (turunlah, ini ada uang Rp 1 juta untukmu),” kata Mbah Pawiro dengan napas tersengal-sengal.

Agaknya Diani tak tergiur oleh uang Rp 1 juta. Dia tetap menuntut Mbah Pawiro menikahinya dulu. Lantaran aparat desa tak bisa mengatasi, terpaksa petugas Polsek Sidiharjo menurunkannya secara paksa. Justru karena ulah si janda, skandal Mbah Pawiro jadi ketahuan orang sekampung. Rupanya Diani nekad manjat menara, karena sudah “dipanjat” tapi tak dikawini.
11:51 PM | 0 komentar | Read More

“Ngejos" di Rumah Kos

Mesum benar kelakuan Saryadi, 30 tahun, sebagai suami. Mau selingkuh saja kok WIL-nya dibawa ke rumah kos-kosannya. Keruan saja kepergok sang istri. Tapi dasar lelaki mau menang sendiri, dia bukan minta maaf pada Ny. Asih, 27 tahun, istrinya, malah wanita itu dihajar di kamar mandi. Paling aneh, wanita selingkuhan Saryadi ini justru berusia 40 tahunan. “Makin tua tambah banyak vitaminnya,” begitu dia beralasan.

Asih menikah melawan Saryadi memang belum begitu lama, baru tiga tahun jalan. Momongan yang jadi dambaan mereka belum hadir, sehingga keduanya merasa cukup tinggal di rumah kos-kosan saja. Di samping kondisi keuangan mereka memang belum layak untuk mengambil rumah BTN tipe 21 pun, suk-sukan (berhimpitan) dalam satu kamar bagi suami istri kan malah tambah anget.

Selama perkawinan itu baru jalan sebulan dua bulan, memang asyik juga suk-sukan dalam kamar. Tapi setelah berjalan setahun, ya gerahlah. Apa lagi sudah tiga tahun belum ada bukti nyata, maka selain gerah Saryadi juga jenuh. Dan inilah yang paling celaka bagi dia, Saryadi mulai lirak-lirik perempuan lain. Dia mengatasi kejenuhan itu dengan cara yang salah. “Tiap hari ketemu lodeh melulu, bosan ah....,” begitu katanya.

Ironisnya, ketika mencari WIL (Wanita Idaman Lain), justru Saryadi mengincar wanita yang jauh lebih tua darinya. Padahal suami Asih ini tak pernah kuliah di Fakultas Ilmu Budaya jurusan arkeologi, sehingga tak ada alasan Saryadi jadi penggemar benda purbakala. Tapi itulah yang terjadi, dia nyosor banget pada Wiwin, yang kini berusia 5 windu tersebut.

Heran atau merasa aneh, selingkuh merupakan hak prerogatip seorang suami yang jenuh di rumah. Biar tua, Wiwin yang berstatus janda ini memang cantik dan STNK (setengah tua namun kenyal) pula. Dibawa jalan nggak ngisin-isini (bikin malu). Dengan kata lain, ditongkrongi maupun ditangkringi sama asyiknya. “Tua-tua kelapa, makin tua makin banyak santennya,” begitu Saryadi setiap mencari pembenaran dari kebijakannya.

Lelakinya nekad, perempuannya juga nyosor saja. Bagaimana tidak? Sudah tahu Saryadi ini masih punya istri dan usia jauh di bawahnya, dilayani juga aspirasi arus bawahnya. Di samping Saryadi yang ngebet, Wiwin sendiri memang sangat butuh. Maklum, sejak cerai dari suaminya sekian tahun lalu, dia sangat merasa kademen di kota Ungaran (Semarang) yang berhawa dingin itu.

Edannya lagi, selingkuh mereka rada kuwanen (terlalu berani). Banyak hotel dan villa di Bandungan, namun kepala keluarga yang tinggal di Suruh ini dengan beraninya membawa Wiwin ke rumah kos-kosannya. Ketika istri kerja banting tulang di pabrik, di rumah dia justru “banting-bantingan” dengan si nenek cantik. “Gini lho dik, nha....bagus, bagus, jangan takut-takut.....,” kata Wiwin setiap memberi pengarahan ala Tino Sidin.

Sudah berbulan-bulan Saryadi-Wiwin menjalin asmara di bawah tanah, dengan tempat tetap sama tanpa perubahan domisili. Mungkin karena mereka sangat rapi mengemas jaringan selingkuhnya, selama ini Asih istri Saryadi tak mengetahui. Di matanya, si suami adalah lelaki yang setia dan jujur. Memang tak ada alasan untuk mencurigai, karena jaminan materil dan onderdil masih dipasok normal.

Ungkapan lama “sepandai-pandai tupai selingkuh, akhirnya jatuh juga” ternyata berlaku pula pada debut pengejosan Saryadi. Gara-garanya sepele, Asih pulang lebih cepat dari biasanya. Nah, saat Saryadi-Wiwin “nanggung” di dalam, mendadak istri pulang ketuk-ketuk pintu. Buru-buru “syuting” itu dicut, mereka mengemasi pakaian masing-masing. Yang bikin Asih makin kenceng menggedor pintu, di dalam dia mendengar bisik-bisik wanita.

Melihat cara suami membuka pintu dilama-lamai, Asih pun curiga. Begitu masuk kamar, dia periksa kolong. Tak ada siapa-siapa. Baru ketika masuk kamar mandi, menemukan WIL suami ada di situ. Mereka pun rebut. Saryadi yang kepepet, bukan minta maaf tapi malah menghajar istrinya di kamar mandi itu pula. Sementara Saryadi-Wiwin pergi, Asih yang teraniaya lapor ke Polres Semarang.

Amit-amit si Saryadi. Ngos-ngosan kok di rumah kos!
11:44 PM | 0 komentar | Read More

Meregang Saat di Goyang

Siapa bilang wanita makhluk lemah yang biasanya hanya mlumah (telentang) ? Buktinya si Kania 40 tahun, dari Banjarmasin (Kasel) ini. Tak sudi diekpolitir materil dan onderdilnya. Dia nekat membunuh suami gelapnya tersebut di saat kencan di ranjang. Maka kasihan sungguh nasib peselingkuhj bernama Andiran 45 tahun, ini lepas gairah nafsunya, tapi lepas pula nyawanya dari badan.

Ini pelajaran berharga bagi kaum lelaki yang mata keranjang. Kalau sudah punya bini satu, ya sudah jangan memikirkan yang lain-lain. Bila kesiapan onderdil dan materil tak seimbang, bisa bikin stress. Kalau kekayaannya sudah seperti Puspo Wardoyo juragan ayam bakar Wong Solo, baru boleh punya istri wong loro (dua) atau lebih. Sebab bila memaksakan diri, bakal menimbulkan penderitaan multi dimensi. Paling tidak, jadi tukang ngibul.

Tapi Adrian dari Banjarmasin ini agak lain. Dia punya simpedes non BRI justru untuk memperkuat ekonomi keluarganya. Maka meski selingkuh, dia memilih yang cantik dan kaya. Janda nggak masalllah, yang penting simpenannya di bank berlipat ganda. Dengan cara demikian, Adrian bisa menggoyang orangnya tapi juga bisa menggoyang isi koceknya. “Sambil menyelam minum air, gitu...” demikian dia berprinsip.

Inkam perkapira Adrian sebagai kepala keluarga memang tidak banyak, padahal dia harus ngempani anak istri. Cari terobosan usaha di era SBY ini semakin susah saja, sehingga Adrian nekat menghalalan segala cara. Biar sebetulnya nipu, tapi diusahakan yang ditipu malah ikut senang, setidaknya merem melek. Sedangkan dia, dari hasil selingkuh itu bisa menangguk uang banyak untuk dibawa pulang ke rumah.

Adalah janda Kania warga Brongos, Kecamatan Barito kota Banjarmasin. Dia janda yang cantik kaya pula. Ke situlah sasaran tembak Adrian. Dengan mengaku sedang ada masalah dengan istrinya, dia mencoba menaklukkan hati perempuan yang sudah sekian lama “nganggur total” itu. “Aku menyesal kawin dengan ibunya anak-anak,” begitu Adrian mulai ngibul.

Tongkrongan Adrian sendiri memang cakep, ditambah pinter ngomong pula. Maka lama-lama janda cantik itu menaruh simpati pada penderitaan TTM (Teman Tapi Mesra)-nya. Bahkan kelanjutannya, dia tak sekadar memberikan nasihat, tapi juga sejumlah uang. Lagaknya sih Adrian menolak, tapi batinnya bilang: kuras semua kantongmu aku siap menampungnya.

Ilmu tipu-tipu Adrian terus dikembangkan. Di samping dapat uang juga dapat goyangan dari janda yang kesepian itu. Bahkan kelanjutnnya keduanya pun nikah siri. Maksudnya, meski belum diakui oleh negara, tapi secara agama sudah sah bila targetnya sekadar untuk goyang-menggoyang saja. “Tapi percayalah, kalau aku sudah cerai dari istriku nanti statusmu akan kusamakan,” kata Adrian ngumbar janji.

Karena dijanjikan akan dinikah resmi, Kania pun makin memanjakan segala permintaan Adrian. Minta materil, silakan, minta onderdil hayo. Bahkan ketika dibujuk untuk menjual rumah miliknya, Kania menurut saja. Padahal hasil penjualan rumah itu bukan untuk buka usaha, melainkan diberikan pada istri pertama Adrian.
Akhirnya Kania taju juga bahwa selama ini Adrian hanya membohongi dirinya. Katanya mau cerai dengan istri, nyatanya dia makin mesra saja. Dan yang paling membuat dia dongkol dan dendam, harta miliknya yang telanjur habis diporoti, ternyata juga diberikan pada istrinya itu. “Jangan-jangan mereka memang kerja sama,” kata batin Kania yang berencana mau balas dendam.

Hari-hari naas Adrian pun tiba. Beberapa hari lalu Adrian ke rumah Kania untuk minta “jatah” selaku suami. Kania pun berusaha melayani sebaik mungkin. Tapi di saat tukang kibul itu “sibuk” menyelesaikan tugas mulia, diam-diam Kania mengambil gunting di bawah bantal, lalu diayunkan ke dada Adrian. Suami gelap itu pun roboh. Kania belum puas. Untuk meyakinkan kematiannya, dia ambil stagen dan dijeratkan ke leher Adrian hingga benar-benar wasalam nyawanya. Setelah itu dengan gagah berani dia menyerahkan diri ke Polres Banjarmasin.
11:40 PM | 0 komentar | Read More

Kandas Di Ranjang Tetangga

Bertolong-tolongan antar tetangga memang sudah merupakan kewajiban bermasyakat. Tapi kalau pertolongan itu dalam urusan ranjang, urusannya bisa jadi lain. Oknum TNI AU bernama Usman, 46, ini kena batunya. “Menolong” bini tetangga yang kesepian, akhirnya dilaporkan oleh suami Ny. Darini, 39, yang diselingkuhi. Maka karier kemiliteran Usman kandas di ranjang tetangga!

Asmara bertabur dosa itu dimulai dari kehidupan rumahtangga keluarga Darini-Ibrahim yang kurang bahagia belakangan ini. Soal materil ibu muda dari Desa Maguwoharjo, Sleman (DIY) ini terjamin. Tapi soal onderdil, lha ini yang payah. Akibat kesibukan kerjanya, Ibrahim, 45, jarang “mengunjungi” bininya. Tapi bila tugas mulia itu dijalankan, hasilnya mengecewakan karena terkena penyakit DRS Med alias: Dereng Rampung Sampun Medal, (ejakulasi dini) itu tadi.

Darini yang masih muda dan enerjik di usia belum kepala empat, pusing juga menyikapi kondisi suaminya. Telah dicoba minum berbagai obat, tapi tak ada hasilnya. Dia lalu ingat masa-masa mudanya dulu. Dalam urusan satu itu tak pernah kantu (terlambat). Belum sampai minta, Ibrahim sudah memasoknya minimal seminggu tiga kali. Lha sekarang, setiap Darini minta sudah kehabisan stock.

Akibat ketidakpuasan dalam bidang satu ini, Darini suka ngalamun sendiri di teras rumah. Nah, sekali waktu terlihat oleh tetangga dekatnya, Usman, yang pekerjaan sehari-harinya menjadi TNI-AU dengan pangkat Kopka alias Kopral Kepala. “Ngelamuni apa ta mbak? Soal negara jangan dipikirkan, sudah ada Pak SBY ini......,” goda si tetangga yang TNI AU itu.

Ingin sebetulnya Darini berterus terang. Tapi soal begituan kan tidak etis diceritakan pada pihak ketiga, maka dia memilih diam. Ternyata Usman terus merayu. Siapa tahu bisa memberikan masukan pada tetangganya itu. Karena ada jaminan “off the record” seumpama pers, akhirnya Darini cerita juga soal suaminya yang jadi “sarjana tanggung” alias DRS Med itu tadi.

Bagi Usman, itu pertanda rejeki nomplok. Kalau hanya problem begituan, dengan suka rela dirinya mau siap jadi dewa penolong. Apa lagi Ny. Darini tersebut orangnya juga cantik, betis mbunting padi, kulit nemu giring (putih bersih), bodi seksi dan tumit merah jambu. Makanya, kapan saja Darini mau, Usman siap nyebrang ke rumah tetangganya itu.

Etika, moral dan keyakinan kemudian bertarung dalam sanubari Darini. Sekian lama tidak memperoleh kehangatan memadai dari suami, dapat tawaran begitu lumayan juga. Apa lagi Usman juga tampan, dalam pakaian seragam TNI AU, tambah ganteng bagaikan Omar Dhani (KSAU zaman Bung Karno - Red) dulu. “Alangkah gagahnya, miring topinya, kunamakan dia Gatutkaca Indonesia....,” kata Darini berkhayal sebagaimana lagunya Ismail Marzuki.

Resiko di belakang, tak lagi dipikirkan Darini. Lain hari dia lalu janjian di Warungboto, Kecamatan Umbulharjo. Di sebuah hotel kelas melati, oknum TNI AU itu melepaskan “tembakan”-nya yang pertama. Sepak terjang Usman memang luar biasa. Ibarat motor, Usman jenis Honda yang makin panas tambah kenceng. Sebaliknya si sumi, seperti motor model lama, asal kepanasan mati.

Lain hari mereka berpacu lagi di lain tempat. Pendek kata hotel-hotel pinggiran di Kaliurang dan Bantul, sudah pernah dibuat kencan Darini dengan oknum TNI-AU itu. Asal butuh, Darini tinggal SMS pada TTM (Tetangga Tapi Mesra)-nya. Kopka Usman pun lalu meluncur menjemput. Selanjutnya, “Honda” seri Usman itu berpacu memuaskan si tetangga yang haus asmara.

Akan tetapi, tak selamanya mulus praktek selingkuh mereka. Sekali waktu, pas HP tak di tangan Darini, SMS Usman yang berisi ngajak kencan masuk dan kebaca oleh Ibrahim suaminya. Tentu saja suaminya jadi marah. Sayangnya, ketika ditanyai soal hubungan itu Darini tak mau mengaku. Tak puas dengan jawaban bininya, Ibrahim lalu melapor ke komandan Kopkda Usman.

Lembaga tempat kerja Usman lalu mengadakan penjebakan. Benar saja, pas Darini-Usman kencan di hotel Kaliadem daerah Kaliurang, keduanya digerebek. Kali ini tak bisa mungkir lagi. Dalam pemeriksaan, Usman mengaku sudah tak kehitung jumlahnya mengencani tetangga sebelah rumah. Dan akibat skandalnya itu, oknum TNI AU yang ganteng dan miring topinya tersebut kariernya kandas di ranjang tetangga.

Usman memang ganteng, tapi sayang miring ......otaknya.
3:57 AM | 0 komentar | Read More

Mengelak Waton Galak

Dunia sudah makin tua saja. Yang selingkuh sama yang istrinya diselingkuhi, kok malah galakan yang tukang selingkuh. Bayangkan, ketika dituduh menyelingkuhi Ny. Darohmi, 27 tahun, tetangganya, meskipun nyata Basuki, 40 tahun, marah besar dan mau mentung suami rekanan selingkuhnya tersebut. Keruan saja urusan jadi melebar ke Polsek Sulursari, Grobogan (Jateng).

Ini kisah demikian klasik, di mana istri yang “kedinginan” nekad selingkuh dengan suami tetangga. Dan karena Ny. Darohmi ini memang cantik, lelaki cap apapun ditawari apem gratis musti semrinthil (langsung mau). Padahal kalau dipikir-pikir, enaknya tidak seberapa, tapi malunya seantero dunia. Bayangkan, setiap ketemu tetangga ada saja yang berbisik: sing krusak-krusek neng pomahan kae sapa ta ya (yang krusak-krusek di pekarangan itu siapa sih)?

Nekadnya Ny. Darohmi memang bukan tanpa alasan. Sejak Salidin, 35, suaminya bekerja di Jakarta, dia jadi kurang terjamin dalam hal cinta kasih suami istri. Biasanya tanpa minta saja seminggu bisa dikasih 3 kali sesendok makan, kini paling-paling sebulan baru nemu lagi. Oleh karenanya Darini sebetulnya ingin mendampingi suaminya di Ibukota, tapi Salidin melarang dengan alasan tempatnya yang belum memungkinkan.

Darohmi yang masih muda dan enerjik, memang masih sangat mendambakan urusan satu itu. Maka ketika “kedinginan” di malam hari, dia suka jadi pusing sendiri. Sudah dicoba ditepiskannya rasa kangen itu dengan baca Nova atau Intisari, tapi tak juga menyelesaikan masalah. “Tergesa beli tahu di pinggir jalan, jika dibelit rindu boleh tetangga buat percobaan,” begitu setan membujuk Darini dengan berpantun ria.

Ah, kok tahu aja, begitu kata hati nurani istri Salidin ini. Jika mau berkata jujur, sebetulnya dia punya tetangga sekampung yang selama ini sangat perhatian padanya. Tak hanya mengucapkan selamat setiap ulangtahun, tetapi Basuki suka berkeluh kesah tentang rumahtangganya yang tak bahagia. Tapi kala itu Darohmi masih bisa berkelit dengan menasihati: jangan terlalu mendalamlah Pak, kita kan sudah tua ini!

Andaikata Salidin selalu di samping dan di atasnya, mungkin Darohmi takkan terpengaruh oleh kata-kata beracun Basuki. Tapi itulah, setiap libido dan gairahnya sebagai wanita muncul, suami selalu masih berada di ibukota. Maka ketika benar-benar Darohmi pusing, dia membiarkan saja Basuki menerobos ke kamar mandi saat dia sedang mandi. “Ee jangan, nanti kebasahan,” kata Darohmi terkaget-kaget.

Tak masyallllah, diguyur juga aku rela, begitu jawab Basuki yang waton nyregudug (asal sodok) itu. Dan karena kata-kata istri Salidin ini sekadar basa-basi politik, lelaki tetangga itu pun terus menyerbu. Dan....., meski sambil “jumenengan” alias berdiri, Basuki jadi juga menuntaskan gairahnya. Bagaimana dengan Ny. Darohmi, meski malu-malu tapi mau. Buktinya, dia tak jadi manggil hansip, malah bilang: sip, sip!

Itu asal muasalnya. Sejak itu, Darohmi tak pernah menolak lagi ketika Basuki tetangga lain gang itu mengajaknya berpacu dalam birahi. Meski lebih tua dari suaminya, lelaki petani itu “cangkulan”-nya masih meyakinkan. Apa lagi “doran” paculnya juga sangat sesuai, sehingga Ny. Darohmi ini suka ketagihan dibuatnya. Kalau dipamiti pulang seusai selingkuh, enteng saja bini Salidin ini ngomong: nggak cium-cium dulu, Mas!

Kalau sudah menjadi sebuah rutinitas, selingkuh dengan suami orang akhirnya membuat Ny. Darohmi ketagihan. Buktinya, ketika Salidin pas di kampungnya, Desa Tunggulrejo Kecamatan Gabus, Darohmi masih mencoba memuaskan aspirasi arus bawahnya bersama Basuki. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, setelah suami ngorok habis “dikasih”, Darohmi menyempatkan diri keluar rumah untuk kencan gelombang kedua bersama Basuki.

Akan tetapi kali ini apes. Saat kembali ke rumah seusai melayani Basuki, ternyata Salidin menunggu dengan wajah masam. Apa lagi terlihat baju dan rambut istrinya awut-awutan. Lantaran alasan habis buang air tak diterima, tak ada cara lain bagi Darohmi kecuali mengaku saja bahwa baru kelonan di kebun dengan Basuki tetangganya. “Ya ada kira-kira sepuluh kali,” kata Darohmi tersendat-sendat.

Hati suami cap apa yang takkan terluka? Celakanya, Salidin yang kalah status dengan Basuki tak berani mengadu ke polisi, kecuali hanya curhat pada teman dekatnya. Lama-lama jadi isyu nasional, sehingga Basuki pun jadi mendengar. Meskipun nyata, dia malah lebih galakan. Salidin malah mau dipentung dengan alasan memfitnah dan menebar kabar bohong. Takut ancaram itu jadi kenyataan, suami teraniaya ini lalu lapor ke Posek Sulursari, sehingga Basuki pun jadi urusan polisi.
3:03 AM | 0 komentar | Read More

Pemburu Harta dan Asmara

Sungguh terkutuk kelakuan Walgito, 22 tahun. Punya pacar cantik targetnya bukan untuk dijadikan ibu rumahtangga, melainkan hanya mau diperas hartanya. Untung Dewi, 22 tahun, segera tanggap. Meski diancam foto bugilnya akan disebar ke umum, dia tetap memutuskan hubungan itu. ‘’Biarlah keperawananku telah hilang, tapi aku tak mau menderita berkepanjangan,’’ kata Dewi di Polwiltabes Semarang.

Ini kisah lelaki yang mencoba mengkomersilkan kegantengan wajahnya. Meski Walgito sudah bekerja di perusahaan pialang di Jakarta dan bergaji cukup, apa salahnya cari tambahan penghasilan? Hanya saja cara-caranya demikian nistha (tak terpuji). Bukan buka usaha atau kerja rangkep, melainkan mau moroti gadis-gadis cantik yang mau dipacari. ‘’Witing tresna mergo atusan lima (cinta tumbuh karena ratusan 5 lembar),’’ begitu semboyan Walgito.

Tampang ada, tutur kata memikat, itulah kondisi Walgito. Maka tak mengherankan banyak gadis yang terpikat oleh rayuannya. Salah satunya adalah Dewi, gadis Ungaran yang kini jadi mahasiswa PTS di kota lompia itu. Hanya beberapa kali jalan bareng dibawa ke sebuah hotel, dibuatnya licin tandas gadis yang berbodi seksi dan berkulit putih bersih itu.

Incaran Walgito selama ini memang yang model-model begitu. Selain cantik, dia harus kaya. Itu bisa dilihat dari penampilan Dewi yang selalu membawa mobil manakala pergi kuliah. Maka begitu akrab dengan si gadis, dia mulai menciptakan alasan-alasan yang ujung-ujungnya agar wanita tersebut mau merogoh kocek untuknya. ‘’Goblok lelaki yang mau keluar duit ketika pacaran,’’ begitu dalih arjuna dari Semarang ini.

Awalnya Dewi memang tak mengetahui kiat-kiat politik Walgito. Maka setiap pergi bahkan tidur di hotel, yang mendanai juga Dewi sendiri. Padahal di hotel itu, dia tak hanya harus keluar uang, tapi juga memberikan goyang pada Walgito. Tapi karena Dewi kadung cinta pada si pemuda, segala pengeluaran tak diperhitungkan benar. Bagi puti Ungaran ini, cinta memang perlu pengorbanan. Jer basuki mawa beya.

Tiap Walgito mengajak doinya masuk hotel atau villa, ada kebiasaan aneh yang awalnya tak disadari Dewi. Dengan alas an untuk mengabadikan tubuh kekasihnya yang indah, setiap habis kencan Walgito suka memotret tubuh Dewi yang telanjang. Apalagi Walgito memiliki bakat memotret yang baik, sehingga adegan yang diperolehnya selalu sensual, tapi tak ada kesan jorok.

Indahnya bencinya dengan Walgito akhirnya menyadarkan mahasiswi itu bahwa kekasihnya bukan pria yang baik. Sebab sementara lelaki itu masih menjalin cinta dengannya, diperoleh kabar si cowok sudah pacaran lagi dengan gadis lain, yang juga cantik dan kaya. Kata berita dari sumber yang layak dipercaya, Walgito di situ juga moroti dan menggerogoti si gadis.

Kalau ingat cintanya yang sudah mendalam, sebetulnya Dewi begitu sakit hati. Tapi di situ dia sekaligus sadar bahwa jalan terbaik telah dibukakan oleh yang Maha Kuasa. Maka meski dirinya sudah terlanjut rusak, dia tak berkeinginan melanjutkan hubungannya. ‘’Kau memang bukan calon suami yang baik, kau lelaki pengeretan. Mulai hari ini putus....,’’ kata Dewi.

Agaknya Walgito tak siap cintanya diputus Dewi. Bukan soal hatinya yang luka, tapi soal kantongnya yang bakal bolong tak ada yang mengisi itu. Maka agar Dewi kembali ke pangkuannya, dia pun menggertak. Jika Dewi tak meninjau kembali putusannya, foto-foto bugilnya saat hubungan intin mau disebarluaskan di muka umum. Biar masyarakat Semarang tahu bahwa Dewi yang cantik itu ternyata suka dibawa lelaki ke hotel.

Hebatnya Dewi, dia tak takut akan ancaman itu. Tapi setelah Walgito pergi dia segera menghubungi polisi Polwiltabes Semarang, agar menangkap pemuda pengeretan sekaligus pemeras itu. Maka sesuai dengan laporan Dewi, Walgito segera ditangkap. Tapi karena penyebaran foto bugil itu baru wacana, apakah bias dipidanakan. Sedangkan dulu Gus Dur ketika presiden pernah bilang, kalau hanya wacana takan ditangkap.
3:01 AM | 0 komentar | Read More

Mborong Istri Tetangga

Kelakuan Sapardi, 38 tahun, sungguh keterlaluan. Sebagai pemborong dia kelewat rakus, sampai-sampai istri tetangga sekaligus anak buahnya mau “diborong” sekalian tanpa lewat tender. Bayangkan, dikala suami Ny.Atmarini, 32 tahun, mengawasi proyeknya, istri di rumah dikeloni dan diajak “lindu setempat”. Uniknya ketika digerebek, Sapardi beralasan: sedang mbetuli HP!

Enak ngkali ya, orang selingkuh itu. Buktinya kolom ini tak pernah kehabisan bahan, ada saja orang yang memperturutkan hawa nafsunya demi kenikmatan sesaat. Padahal kalau ketahuan, citra, karier, semuanya dipertaruhkan. Itu belum seberapa, selain kehilangan muka dan masa depan, sering pula harus kehilangan nyawa. Bayangkan, sedang gusrak-gusrak berbagi nikmat, tahu-tahu ...pletakkk, kepala dibacok. Wasalamlah

Lelaki pemborong dari Kalasan, DI Yogyakarta ini agaknya tak pernah berfikir ke sana. Melihat ada perempuan begitu mulus bebas dempul, langsung pendulumnya kontak. Ketika ketemu Ny. Atmarini tetangganya itu misalnya, matanya langsung melotot macam kucing lihat dendeng. “Ccck, ccck, aku punya bini macam dia, wih...., ra kober kathokan (nggak sempat pakai celana),” katanya ngeres sekali.

Atmarini memang cantik. Dalam usia belum kapala empat, dia nampak demikian seksi menggiurkan. Kulitnya yang putih bersih, betis mbunting padi, tungkak jambon, itu semua merupakan nilai plus yang bikin jantung Sapardi selalu berdegup dan ser-serran. Baginya, Ny. Atmarini itu begitu sempurna. Kalaupun ada cacat, kenapa dia sudah menjadi milik orang. Kenapa pula Tuhan dulu tak mempertemukan dengannya, Ah....!

Menafikan moral dan etika, Sapardi mencoba menempel wanita itu. Kebetulan Daryun, 35, suami Atmarini sedang menganggur. Maka dengan berlagak sebagai dewa penolong, Sapardi menawarkan pekerjaan. Daryun yang tak tahu politik tetangganya tersebut, mau saja. Apa lagi dia langsung diberi posisi mandor proyek, dapat fasilitas sepeda motor baru. “Kamu naik motor baru, binimu nanti gentian kunaiki,” batin Sapardi lagi-lagi ngeres.

Posisi Daryun kini jadi turun setingkat dengan Sapardi tetangganya. Sebagai bawahan di PT. Bangun Asmara, dia harus tunduk atas segala perintah Sapardi selaku direktur utama. Ketika perusahaan punya acara, Atmarini bininya diminta bantu-bantu urusan belakang, bahkan untuk bagian terima tamu pula. Alasanya, orang cantik kan enak dibuat pethetan (tanaman hias).

Usaha Sapardi mengena, terbukti dia mulai menjadi akrab dengan Ny. Atmarini. Pelan tapi pasti pak pemborong ini mulai menghembuskan angin-angin asmaranya. Rupanya istri Daryun juga menangkap dan memahami aspirasi arus bawah sang boss. Buktinya ketika tangan Sapardi mulai nakal ketika dalam satu mobil, Atmarini diam saja. Cuma yang suka bikin pemborong itu kesal, bila dalam mobil banyak orang, disuruh duduk di depan tak mau. “Sama saja Pak, di sini juga nggak apa....,” katanya.

Namun tak hanya sampai di situ usaha pendekatan Sapardi. Sekali waktu ketika Atmarini mengantar makanan ke rumah, langsung saja disergap di ruang tamu. Kebetulan situasinya memang mantap terkendali. Tenyata istri Daryun tak berontak. Jadilah keduanya cucuk-cucukan (patuk-patukan) bagaikan burung balam ketemu jodohnya.

Gelagat ini membuat Sapardi makin berbunga-bunga. Bila kemarin hanya bibir, target selanjutnya pastilah berlebih. Pemborong dari Desa Tamanmartani Kecamatan Kalasan Kabupaten Slemen ini mulai menebar jaring. Daryun diminta mengawasi proyek di luar kota. Nah, saat suaminya tak di rumah, malam-malam Sapardi merayap ke rumah Atmarini. Di kala lindu (gempa) belum menggoyang Kalasan kala itu, Sapardi-Atmarini sudah bikin “lindu setempat” sendiri di kamar. Kriyet, kriyet...!

Malam-malam berikutnya selalu begitu yang terjadi, sehingga sekali waktu dipergoki tetangga. Ada apa Sapardi malam-malam ke rumah Atmarini yang baru ditinggal suami jaga proyek? Karena lama tak keluar juga, warga pun lalu mengintip. Masya Allah, pemborong dan istri anak buahnya itu ternyata sedang tumpang tindih berbagi asmara. “Gropyokkk, gropyokkkk....!”, kata warga yang tak sabaran.

Atmarini-Sapardi segera mengemasi pakaian masing-masing. Pak pemborong bermaksud kabur lewat pintu dapur, tapi eitttt, sudah dikepung warga. Maka dengan mudah dia bisa dibekuk dan digelandang ke rumah pak RT. Untungnya warga masih bersabar, keduanya tak diproses hukum kecuali hanya bikin pertanyaan tobat nasuha saja. Yang unik, ketika diinterogasi Sapardi sempat berkelit bahwa kala itu hendak memperbaiki HP Atmarini. Ah yang bener, HP yang colokannya ada di bawah ya?
2:56 AM | 0 komentar | Read More

Berebut Daging dan Cinta WTS

Sebagai WTS agaknya kecantikan Priyanti, 20 tahun, selangit. Buktinya Nyoto - Wahyu sampai berani bacok-bacokan demi “daging” tak lebih dari seperempat kilogram itu. Cuma karena Nyoto jauh lebih muda dan perkasa, Wahyulah yang terkapar kena bacokan. Yang repot tentu saja polisi Polsek Bawen. Dagingnya tak kebagian mereka harus repot mengantar hidung belang muda itu ke RSU Ambarawa.

Antara Nyoto, 22 tahun, dan Wahyudi, 27 tahun, sebetulnya sudah lama berkenalan, karena keduanya sama-sama tinggal di Desa Harjosari Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Tapi belakangan keduanya jadi bermusuhan, bagaikan kucing ketemu anjing. Apa yang jadi penyebabnya, ternyata hanya urusan cewek. Mereka bersaing memperebutkan cinta dan daging Priyanti, persis Indonesia-Malaysia dulu, ketika berebut pulau Ligitan.

Yang bikin orang terheran-heran, apa sih kelebihan Priyanti sehingga keduanya “jatuh bangun aku mengejarmu” seperti Megi Z saja. Soalnya, semua orang tahu bahwa wanita yang tinggal di Kompleks Tegal Panas itu sudah terlanjur jadi milik publik. Asal ada uang, siapa saja boleh bawa. Memang, Priyanti tak lebih seorang WTS di komplek pelacuran tersebut.

Agaknya pelayanan Priyantilah yang membuat mereka sukar melepaskannya. Di ranjang, PSK satu ini memang punya daya cengkeram luar biasa macam ban Goodyear. Dia bisa melayani permintaan dan gaya apa saja. Baik Wahyudi maupun Nyoto, asal sudah kena servis Priyanti, jadi merem melek dan lali purwaduksina (lupa segalanya). Lucunya, meski mereka sama-sama sering pakai, awalnya tak tahu bahwa sudah sekian lama ikut proyek Salome (satu lobang rame-rame).

Nyoto baru sadar kalau Priyanti langganan Wahyudi, ketika WTS itu curhat tentang lelaki dari Harjosari yang cengkiling atau suka main pukul. Begitu sebut nama dan ciri-ciri, ternyata Wahyudi itu adalah tetangganya sendiri. “Trembelane, ternyata kita sama-sama putra daerah...,” kata Nyoto agak malu-malu.

Keluhan dan curhat Priyanti ternyata membuat Nyoto prihatin dan simpati. Di lembah hatinya yang sangat dalam, dia tak rela bila WTS yang sudah terlanjur dicintainya itu disia-siakan oleh lelaki lain macam Wahyudi. Bagi Nyoto, Priyanti adalah sosok wanita yang perlu disayang sekaligus digoyang. Di samping wanita itu dia merasa bahagia, di atas perempuan itu pula Nyoto merasa berada di surga dunia.

Ada tradisi dan filusufi Jawa yang mengatakan: sadumuk batuk sanyari bumi. Artinya bahwa urusan perempuan harus dibela sampai mati. Berangkat dari soal itulah Nyoto ingin menjaga martabat dan “martabak” kekasihnya dari kesewenang-wenangan lelaki lain. Nyoto ingin Wahyudi menjaga dan memperlakukan Priyanti secara baik-baik sebagaimana dirinya. “Saudaraku, kita kan sama-sama sekampung dan satu sarung, betul tidaaaak....?” batin Nyoto saat merancang kata-kata bagi Wahyudi tetangganya.

Tak menunggu hari lain, Nyoto segera mencari Wahyudi. Bak seorang penganjur kebajikan, Nyoto lalu menasihati tetangganya tersebut agar memperlakukan Priyanti secara manusiawi. Jika sudah tidak sayang sama dia, terus terang saja, karena Nyoto siap merawat WTS itu secara baik-baik, bermartabat dan bebas dari pelanggaran HAM. Dan maukah lelaki itu menerima segala nasihat Nyoto? Ternyata tidak!

Ihik, ihik......, mau tertawa Wahyudi mendengar ceramah anak kemarin sore, yang buat kencing saja belum lempeng. Oleh karenanya dia terus saja nggebuk dan “nuthuk” Priyanti. Jika pelayanan wanita itu tak memuaskan, pukulan dan tinjunya mendarat. Tinggalah Priyanti menangis. “Dasar lelaki, asal sudah dilayani langsung ngorok dan main tonjok,” kata Priyanti sekali waktu.

Kembali dia mengadu pada Nyoto. Lagi-lagi mendengar tangisan kekasihnya, sehingga batas kesabarannya pun habis. Dia segera mengasah golok dan kemudian dibawa pergi untuk mencari Wahyudi. Pikir Nyoto, kalau bisa dinasihati baik-baik, sukurlah. Kalau tidak, golok yang konon pernah makan korban pendita sanga itu siap pula memakan Wahyudi.

Agaknya Wahyudi tetap tak bisa menerima nasihat Nyoto. Keduanya pun lalu berantem, saling pukul dan gebuk. Tak sabar lagi atas kelakuan rivalnya, Nyoto mengambil golok di balik punggungnya. Dengan target untuk sekadar memberi pelajaran, bagian punggung golok tersebut lalu digetokkan ke kepala Wahyudi, pletakkk. Tak sampai mati, kecuali hanya luka-luka. Namun demikian Wahyudi segera lapor polisi dan Nyoto pun ditangkap.

Hanya soal perempuan kok berantem. Lha mbok sudah, dikeloni bareng!
2:35 AM | 0 komentar | Read More

Kadus Ingkar Janji

Orang selingkuh kok lapor ke partai, memangnya selingkuhnya melibatkan petinggi partai itu ? Kasus perselingkuhan yang salah pelaporannya ini terjadi Kabupaten Sragen (Jateng). Kantor DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Sragen didatangi Tarsih, 34 tahun, warga Sumberlawang, gara-gara dirinya diselingkuhi Kadus (Kepala Dusun) Mojopura bertahun-tahun tanpa dinikahi.

Kantor PAN itu diminta menindak lanjuti Kadus Sumino, 36 tahun, karena dia berani menelantarkan dirinya dan menikahi wanita lain.

Kisah cinta berkalang noda ini dimulai sejak 10 tahun lalu, ketika Tarsih masih gadis kinyis-kinyis (cantik nan mulus) dan Sumino masih perjaka tingting. Mereka menjalin cinta sebagaimana layaknya muda-mudi. Apalagi masih satu kampung, sehingga kesempatan bertemu selalu terbuka. Di mana ada Tarsih di situ ada Sumino, ibaratnya seperti platina dengan kondensor untuk mobil. Pendek kata selaku kompak!

Memacari Tarsih memang bukanlah langkah yang keliru. Selain orangnya gra-pyak semanak (supel), dia juga memiliki wajah dan bodi yang sangat menjanjikan. Kulitnya putih bersih, rambut tergerai sampai punggung, betis mbunting padi. Dan yang tak kalah penting, “colokan”-nya ada di depan, seperti teve model baru.

Sumino memang pemuda ambisius. Saat dirinya berjuang mendapatkan Tarsih, dia juga tengah berjuang untuk merebut kedudukan sebagai Kadus di kam-pungnya. Dan dia tahu persis, Tarsih ini juga punya posisi tawar untuk itu. Sebagai gadis yang banyak familinya di kampung tersebut, dia pasti bisa dimanfaatkan untuk menggalang suara dalam pemilihan Kadus. Kesempatan emas ini tak disia-siakan oleh Sumino. Sambil terus menempel Tarsih dia juga merayu agar wanita itu mau menggalang suara di kampungnya dalam pemilihan Kadus. “Jika saya berhasil jadi Kadus, niscaya kamu akan kunikahi segera,” janjinya kala itu.

Tarsih yang memang demen pada Sumino sudah barang tentu segera mem-bantunya. Bukan sekadar moril, tapi juga materil. Selain mempengaruhi keluar-ganya untuk memilih Sumino, Tarsih juga menyisihkan dana nonbudgeter untuk kampanye pemenangan sang doi. Tarsih memang sudah membayangkan, jika menang dalam Pilkadus, niscaya sebutan Bu Kadus akan segera diraihnya.

Saat pilkadus berlangsung alhamdulillah Sumino keluar sebagai pemenang dan dia melenggang dengan mulus ke kursi Kadus. Namun ternyata Sumino ini juga tak lebih seperti politisi-politisi di Senayan, suka lupa pada janjinya terhadap rakyat. Setelah dapat panggilan Pak Kadus, bukannya menikahi Tarsih tapi malah memper-sunting wanita lain. Bagaimana hati gadis itu tidak njarem (terluka) dibuatnya.

Sebagaimana lazimnya wanita, Tarsih juga merupakan gudangnya maaf. Be-tapapun Sumino cidera janji dan selalu bikin sakit hati, tak membuatnya dia menaruh dendam kesumat. Itu dibuktikannya ketika setiap Sumino mampir ke rumahnya diterima sepatutnya. Cinta Tarsih pada Pak Kadus memang tak pernah luntur, sehingga ketika Sumino minta pelayanan ranjang, masih juga dilayani selama bertahun-tahun.

Lama-lama istri Sumino definitip mencium juga perselingkuhan suaminya itu. Namun bukannya dia klarifikasi dan interpelasi dulu pada suaminya, tapi malah main labrak ke tempat Tarsih berusaha di Sumberlawang. Dengan mengedepankan emosinya, toko itu diobrak-abrik dan Tarsih dituduh mengganggu suaminya. “Kaya nang Sragen kene wis ora ana lanangan liyane (seperti di sini sudah tak ada lelaki lain saja),” makinya.

Tentu saja Tarsih tak menerima perlakuan itu. Dia mengadu ke Kades, tapi cuma didamaikan dengan ganti rugi Rp 400.000,- Karena tak puas juga, Tarsih me-ngusung laporannya ke kantor partai politik yang top itu. Dia menuntut Sumino menceraikan istri pertamanya dan kemudian menikahi dirinya. Ini sebagai pertanggunganjawab Sumino yang telah menodai Tarsih berulang kali.

Nggak ada noda, ya nggak belajaaar!
2:54 AM | 0 komentar | Read More

Cintanya Direbut Banpol

Remuk redam hati Irwan, 26 tahun, ketika cintanya pada Linda, 23 tahun, tak mendapat tanggapan. Memang dunia tak selebar daun kelor, tapi ketika cowok pemenang persaingan itu lalu bersikap over acting, bagaimana hati Irwan tak menjadi panas? Maka ketika Muhtar, 29 tahun, baru saja pulang apel di rumah Linda, langsung ditempeleng: pletakkkk. Biar banpol dan berbadan kekar, ternyata Muhtar terjengkang juga dari motornya.

Irwan sebetulnya sudah lama jatuh cinta pada Linda, gadis tetangga sendiri di Jalambar Fajar, Pejagalan, Jakarta Utara. Bagi mata lelaki normal, sosok dan penampilan Linda memang menawan. Di samping wajahnya yang ayu, bodinya memang seksi menggiurkan. Maka tak mengherankan, setiap ketemu gadis itu dada Irwan berdegup keras. “Setidaknya cewek model Linda, kalau dikeloni anget, gitu,” batin Irwan.

Namanya orang jatuh cinta. Apa yang berkaitan dan bersentuhan dengan gadis pujaannya selalu menarik. Jangankan bisa menatap wajah si doi, baru melihat rumahnya saja Irwan sudah seneng banget. Dan karena mereka bertetangga, paling tidak Irwan sudah kenyanglah menatap rumah Linda.
Demi suksesnya sebuah cinta, mestinya Irwan berani mendeklarasikan gejolak jiwanya itu pada si doi. Tapi dia merasa minder, karena belum memiliki pekerjaan yang tetap. Maka setiap melihat Linda, jakunnya saja yang turun naik. Bila terlihat gadis itu momong ponakannya, Irwan dilanda cemburu. “Enak juga jadi ponakannya ya, diciumi melulu. Kapan aku ya dicium Linda....,” begitu batin Irwan.

Usaha Irwan memang baru sampai tingkat wacana, karenanya Linda sama sekali belum mengerti aspirasi arus bawah tetangganya tersebut. Pada saat yang sama muncul Muhtar, seorang banpol (bantuan polisi) yang menaruh hati pada Linda. Tapi lelaki ini lincah dan cekatan. Meski hanya banpol pedenya ngepol, dia berani mendekati si gadis kembang kampung.

Apakah cintanya diterima, tak diketahui pasti. Yang jelas banpol Muhtar menjadi rajin apel ke rumah Linda. Bahkan warga pun suka melihat, Linda sering dibonceng motor oleh Muhtar. Tangan Linda lalu merengkuh pinggang Muhtar ketat sekal. Duh, duh..... panasnya hati ini. Kalau tidak ingat bahwa kecemburuannya tidak berdasar, ingin rasanya Irwan menimpuk kepala Muhtar sampai benjol.

Takut cintanya ketinggalan kereta, Irwan nekad menyurati gadis itu, meski pendekatan pribadi belum pernah dilakukan. Dipilihnya kata-kata bagus dengan harapan Linda terlena oleh kata-katanya yang mendayu. Kadang pula diselipkan pantun gaya melayu. “Abang bewok jualan sayur, yang belanja berdaster merah biru. Wajahmu elok bikin aku syur, badan gemeter takut ditolak cintaku,” begitu Irwan berpantuan ria.

Ironisnya, sampai seminggu surat itu tak dijawab oleh Linda. Bahkan ketika ketemu, kembang idola itu sepertinya acuh saja. Celaka, cinta Irwan hanya dimasukkan ke dalam arsip. Linda yang biasanya ikut nimbrung jika Irwan ngobrol dengan ayah ibunya, kini bila didatangi nemui juga tidak. Linda sibuk masak terusssss....! Dasar.

Kecewa dan kalut hati Irwan, ketika diperoleh kabar Muhtar makin serius mengencani Linda, bahkan mau diambil istri. Mungkin lelaki itu tahu bahwa Irwan juga naksir pacarnya sekarang. Maka bila ketemu Irwan saat boncengan motor dengan Linda, Muhtar suka bersiul-siul dengan nyanyi lagunya Rahmat Kartolo dulu. “Patah hati kujadinya.....!”

Apek benar nasib Irwan, sudah cintanya tak digubris, dipermainkan lagi. Sejak saat itu dia berencana, bagaimana bisa memberi pelajaran calon suami Linda. Maka beberapa hari lalu saat Muhtar apelm, dia ditunggui saat kepulangannya. Benar saja, baru 100 meter dua mengendarai sepeda motornya, langsung dipukul Irwan dari belakang; pletakkk. Biar tinggi besar badannya, dapat swing mendadak terjengkang juga Muhtar dari motornya.

Hati Irwan lega kini, karena sudah berhasil membalas sakit hatinya. Tapi itu tidak lama, karena esok paginya polisi Polsek Penjaringan menjemputnya. Hampir saja dia masuk tahahan, untungnya kemudian berhasil didamaikan. Artinya, Muhtar memaafkan Irwan, dan Irwan legawa orang yang ditaksirnya jadi pacar devinitip Muhtar.
2:47 AM | 0 komentar | Read More

Suami Aji Daun Jati

Ah, suami cap apa si Mardan, 56 tahun, dari Demak ini. Cuma karena digigit dan dicakar bini saja, kok lapor polisi. Padahal laporan itu justru menelanjangi dirinya sendiri. Sebab dari situ terungkap bahwa dia memang lelaki aji godong jati (masih berharga daun jati). Sudah pengangguran, masih kena penyakit DRS Med lagi. Pantesan istrinya, Wiwik, 43 tahun, minta cerai.

Tanda-tanda keretakan rumahtangga Mardan-Wiwik terlihat sejak tiga tahun lalu, ketika si suami terkena PHK dari kantornya. Untungnya istri Mardan ini bekerja sebagai pegawai negeri, sehingga meskipun pesangon dari perusahaan kelewat kecil, kuali di dapur tak sampai terguling. Buat sementara waktu Wiwik bisa menutupi segala kebutuhan keluarga.

Istri Mardan sebetulnya sudah cukup pengertian, bisa menerima kondisi suami dan apa yang terjadi dianggapnya sebuah cobaan. Cuma, Mardan menanggapinya lain lagi. Sebagai lelaki yang selama ini sangat dominan dalam keluarga, jiwanya terbanting ketika dia kini harus disuapi oleh istri. Bayangkan, istri yang mustinya hanya mamah dan mlumah kok kini terbalik jadi tulang punggung keluarga. “Suami cap apa kamu ini,” begitu hati nuraninya selalu bicara.

Ketiadaan harga diri Mardan ternyata berimbas pada urusan ranjang. Biasanya selalu perkasa dan gagah bak kudanya Pangeran Diponegoro, kini dia menjadi sangat letoy. Biasanya seminggu masih bisa menjalankan sunah rosul 3 kali, kini seminggu sekali belum tentu. Yang paling payah, sudah frekuensinya menurun, Mardan terkena penyakit DRS Med alias dereng rampung sampun medal (ejakulasi dini).

Akibat penyakit baru si Mardan, rumahtangganya jadi tak harmonis lagi. Selain Wiwik tak memperoleh lagi kenikmatan syahwati, belakangan Mardan suka ngadi-adi (manja) dalam urusan makan. Kini kalau tak ketemu ayam goreng di rumah, marah-marah. Padahal dulu, dibikinkan semur jengkol saja sudah senang sekali. “Semur jengkolmu enak sekali, Ma...,” begitu dulu sanjung Mardan ketika masih suasana pengantin baru.

Hari-hari selanjutnya Mardan jadi gampang marah, padahal itu sesungguhnya hanya akal untuk menutupi kekurangannya selama ini. Ya kurang dalam soal materil, ya kurang dalam soal nafkah onderdil. Bila selisih pendapat dengan istrinya, Mardan kini sudah berani main pukul. Padahal dulu ketika pacaran, baru Wiwik kesandung batu, yang diomeli habis-habisan ya batunya tersebut.

Istri cap apapun pasti stress menghadapi suami macam Mardan. Begitu pula Wiwik yang tinggal di Desa Pucanggading Kecamatan Sayung ini. Daripada tiap hari serasa hidup di neraka bersama Mardan, dia berniat minta cerai saja. Soal anak yang akan jadi korban, tak diperhitungkan benar. “Biar saja, toh mereka sudah membawa garis rejekinya masing-masing,” kata Wiwik.

Dasar Mardan. Gagasan gila istrinya itu bukan dianggap sebagai peringatan agar dia mengubah sikap. Justru dia makin rajin main tendang dan tempeleng. Katanya, sampai kapanpun dia takkan menceraikan Wiwik. Padahal sesungguhnya, bukan saja takut kehilangan cinta dari istrinya, tapi karena takut kehilangan sumber penghasilan. Soalnya, kalau Wiwik bukan lagi istrinya, siapa lagi orang yang mau ngingoni (memberi makan) dirinya.

Oleh karenanya segala proposal dan usaha Wiwik untuk menuju jalan perceraian selalu ditolak. Tapi dalam setiap omongannya, Mardan selalu menandaskan bahwa kalau perceraian itu sampai terjadi, kasihan anak-anak akan jadi korban. Dia sama sekali tak mau tau perasaan istrinya, yang merasa tertekan lahir dan batin. “Ibarat kendaraan, saya ini oleh suami sekadar nggo duwe-duwe (bukti memiliki), tapi jarang dinaiki...,” kata Wiwik ketika curhat pada teman akrabnya.

Lima hari yang lalu kekesalan Wiwik mencapai puncaknya. Sudah usulan cerainya ditolak, Mardan masih main tempeleng pula. Kali ini terpaksa dia unjuk kekuatan. Bila biasanya hanya mengalah, kini Wiwik balas mencakar muka suami, bahkan ditambah menggigit tangan segala. Di sinilah kelucuan itu terjadi. Wiwik yang ditempeleng tak pernah mengadu ke polisi, Mardan baru dicakar dan digigit sudah lapor ke Polwiltabes Semarang. Benar-benar lelaki ayam sayur, dia.

Alatnya saja lelaki, tapi sebetulnya dia kalah berharga dengan daun jati!
2:45 AM | 0 komentar | Read More

Mimpi Buruk ABG

Alim benar Taslim 15 tahun, sebagai ABG. Baru mimpi berubah dengan wanita saja merasa berdosa hingga strees. Usut punya usut, penyebabnya adalah Ratna 30 tahun, bibinya senidiri. Sebab wanita yang sudah berkeluarga itu suka tampil sembarangan di depan ponakanya yang baru gede. Nah, gara-gara bermimpi menggauli bibi sendiri, Sobir pun tak bisa tidur berhari-hari.

Taslim memang masih muda. Ibarat ayam, usia kemanggang, begitu. Seperti lazimnya ayam jago muda, setiap melihat ayam betina lewat, langsung nggaya. Padahal dia punya “taji” belum tumbuh sempurna. Tapi namanya juga jago muda, ayam babon itu lalu dikejar-kejar untuk dipatuk dan kemudian dikawini di tempat sampah.

Ilmu Taslim sebagai ABG zaman sekarang memang demikian “kaya”. Bila pemuda angkatan sebelumnya puas dengan membaca stensilan, Taslim ini bisa memuaskan selera libidonya melalui jaringan internet. Melalui situs-situs porno dia bisa membuka adegan-adegan syur anak manusia dalam pakaian Adam dan Hawa. Mencari gambar cewek telanjang model apa saja, dunia maya selalu memfasilitasi, tinggal kuat-kuatan bayar pulsa.

Kelakuan pelajar SMP di Bogor ini semakin menjadi ketika dia belakangan rajin main ke rumah tantenya, Ny. Ratna, di bilangan Bekasi. Kenapa gerangan? Asal tahu saja. Di rumah itu dia bisa memperoleh dari yang di internet. Bila di dunia hanya gambar mati tak bergerak, di rumah tante Ratna, Taslim bisa mencuri-curi pandangan adegan porno yang sudah layak ditentang APP (Anti Pornoaksi dan Pornografi).

Apa sih yang dilihat Taslim di rumah tantenya itu? Ini sebetulnya bagian dari kesembronoan Ratna. Mentang-mentang di rumah sendiri, dia kalau mandi suka tidak mengunci pintunya. Atau suka duduk ngongkong sehingga “segi tiga pengaman”-nya terlihat dengan mudah oleh mata lelaki non suami. Dan yang tak kalah bikin pusing mata lelaki, malam hari Ratna suka mengenakan daster transparan.

Hil-hil yang mustahal tersebut tentu saja sering membuat si ABG Taslim jadi pusing. Dengan dada bergemuruh dia suka curi-curi, menikmati pemandangan yang jarang nemu tersebut. Dari sekelebat celdam tantenya hingga baju tidur yang transparan. Paling bikin pemuda itu tambah pusing, ketika dia memergoki tantenya di kamar mandi sedang telanjang karena mandi. “Sori, aku lupa mengunci pintunya,” kata Ratna tanpa merasa jengah.

Ratna yang ganjen dan sembrono itu tak urung membuat si ABG Taslim jadi teringat terus akan pemandangan spektakuler itu. Bahkan kemudian terbawa dalam mimpi. Yang unik, dalam mimpi itu Taslim merasa kencan dengan bibi sendiri, sampai kemudian si bibi hamil. Pemuda ABG itu pun langsung panas dingin karena merasa harus bertanggung jawab atas segala perilakunya.

Ironisnya, meski hanya sekadar mimpi, kepanikan Taslim terus terbawa sampai ke alam nyata. Begitu bangun tidur dia jadi stress, sampai lupa makan dan perangainya pun berubah drastis. Pemuda yang selama ini ceria, mendadak jadi pemurung. Biasanya tiap minggu ke Bekasi ke rumah tante, kini lebih banyak Taslim ngendon dalam kamar. “Kamu sakit ya...?” kata ibunya beberapa hari lalu.
Namun Taslim tak mau mengaku problem apa yang sesungguhnya tengah membelit dirinya. Meski didesak, dia tak mau buka kartu pada orangtuanya. Baru pada temannya bernama Galih dia mau bercerita akan kesulitan yang dialaminya. Di sana diceritakan bagaimana ulah tantenya selama ini, bagaimana dia bermimpi menggauli bibinya hingga hamil. Ujung dari curhat ini, Taslim berpesan agar kisah itu dirahasiakan.

Dasar anak ABG, pesan Taslim tak dipatuhi Galih. Dia cerita pada ibunya, dan ibunya pun segera menyampaikannya pada ibu Taslim. Malu juga wanita ini akan ulah anak lelakinya. Sementara putranya dimarahi dan kemudian dinasihati, tak urung Ratna juga diomeli ibunya Taslim, karena begitu ceroboh membawa diri. “Aduh kasihan Taslim, kok jadi begitu ya. Saya kok ya juga lupa, seperti tak pernah muda saja,” kata Ratna di ujung telepon.
Uh, dasarrrrrr!
2:42 AM | 0 komentar | Read More

Gantungan Penebus Malu

Menyelingkuhi atau mengganggu bini orang, sudah menjadi menu sehari-hari, Ratijo, 50 tahun, warga Grobogan (Jateng). Tapi ketika kepergok ngeloni janda Watinah, 40 ahun, tetangga sendiri, masih juga merasa malu dia. Tak tahan rumahnya digruduk (diserbu) masa, Ratijo memilih menyelesaikan masalah itu dengan caranya sendiri. Dia ambil tali, lalu gantung diri salah satu kamar di rumahnya, hingga wasalam.


Etika dan moral, selama ini hanya hanya menjadi penghias bibir bagi Ratijo yang tinggal di sebuah desa di Kecamatan Grobogan Kabupaten Purwodadi. Sudah tahu mengganggu bini orang, nggodain perawan atau janda lewat, adalah merupakan perbuatan dosa ditilik dari kacamata agama, mbelgedes bagi Ratijo. Asal ada kesempatan, dia selalu berulah. Apa lagi jika perempuannnya nanggapi, ya makin menjadi-jadi.

Nafsu Ratijo dalam bidang keperempuanan memang tinggi sekali. Apa lagi selama ini dia hidup menduda, sehingga setiap melihat makhluk lawan jenisnya lewat, matanya jadi liar macam kucing lihat ikan peda. Jika situasi dan kondisinya sangat kondusif, pasti diseragapnya hip. Bisa itu terjadi manasuka, tapi bisa pula dalam bentuk perkosaan. Untungnya, warga desa dan tetangganya masih bersabar, sehingga ulah Ratijo belum sampai berurusan dengan hukum.

Duda sialan ini sering disarankan tetangganya, agar menikah saja. Kalau tak ada biaya, warga sanggup membiayai, atau cari sponsor ke rokok Dunhill. Tapi Ratijo tak pernah berminat. Dia punya alasan, punya bini sama saja memelihara kambing, harus memberi rumput dan menyediakan kandang segala. “Jadi selagi masih ada sate, buat apa memelihara kambing segala?” begitu katanya.

Usaha warga untuk menyadarkan Ratijo mentoklah sudah. Tapi akibatnya, hampir tiap minggu korban baru berjatuhan. Kalau tidak mengganggu bini si A, ya mengganggu bini si B. Kabar terakhir mengatakan, Ratijo kini juga punya WIL di Semarang. Padahal wanita gendakan barunya tersebut masih meger-meger punya suami.

Nekadnya Ratijo sebagai petualang asmara, akhirnya kena batunya juga. Beberapa hari lalu dia tertangkap basah tengah menggauli janda dekat rumahnya. Dia kemudian dibawa ke balai desa, dipaksa segera menikahi. Tapi ternyata Ratijo hanya nggah-nggih ra kepanggih (janji dong). Warga pun rame-rame menyerbu rumah Ratijo sambil menggelar yel-yel: Ratijo jago demenan, hore, Ratijo jago demenan, hore!

Gerah juga saban hari diolok-olok warga sebagai tukang selingkuh dan mengganggu bini orang. Malu terus-terusan diledek warga, bahkan mulai dikucilkan dari pergaulan, Ratijo nekad menyelesaikan kasusnya dengan caranya sendiri. Dia lalu mengambil tali, gantung diri di kamar rumahnya. Esok paginya keluarga mendapatkan tubuh Ratijo tergantung dengan lidah terjulur, sementara air mani juga keluar dari sumber masalah dan persoalan.
11:31 PM | 0 komentar | Read More
 
berita unik